Your alt title

Kasihku, Kisah Kita Sampai Di Sini


Nyeri hebat di seputar kepala perlahan-lahan mengembalikan kesadaranku, kucoba membuka mata, terasa berat sekali tidak ada tenaga yang tersisa. Sekali lagi kukumpulkan tenaga untuk menggerakkan anggota tubuh yang lain, tidak ada respon. Samar-samar terdengar suara, obrolan perawat jaga. Kucoba mengumpulkan sisa-sisa memori terhadap apa yang terjadi. 


Kembali nyeri mengalir hebat. Terakhir yang kuingat, pingsan. Yah, aku pingsan. Sebuah reaksi spontan yang sering menemani hidupku tujuh tahun belakangan ini. Sejak  menyandang predikat penderita tumor otak, pingsan merupakan sesuatu yang tidak asing lagi.

Kudengar lamat-lamat beberapa langkah kaki mendekat, sebuah benda dingin terasa mendarat di dadaku. "Bagaimana vitalnya , Sus". Suara berat terdengar, mungkin dia dokter yang merawatku "Mulai bagus dok, saya monitor terus". Beginikah rasanya "koma". Sadar terhadap lingkungan, tapi tubuh tidak mampu merespon apa-apa.

Mengapa aku pingsan, pertanyaan kecil berputar di kepalaku menuntut jawaban dari memori yang masih lemah kugapai. Mulai teringat, aku dari acara perkawinanmu. Yah, engkau telah menikah. Entah sudah berapa jam, berapa hari aku terbaring disini. Apa yang kamu lakukan sekarang, dimana kamu sekarang. Pertanyaan beruntun memenuhi benakku. Mungkin engkau sedang menikmati keluarga barumu sekarang. Melihatmu di pesta itu, betapa bahagianya rasanya melihat engkau tersenyum. Inilah dunia nyata , belajarlah untuk menikmati peran barumu sekarang. Aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaanmu. 

Aku ingat, engkau meminta pendapatku, kamu akan menikah, keluarga menuntutmu segera berkeluarga. mendengarnya aku senang, walau jauh di dasar hatiku, ada gejolak tidak nyaman, namun tetap diwajahku tersungging sebuah senyuman. Bagus, kalau engkau memiliki keputusan dan rencana seperti itu, aku hanya bisa mendukung. Apa yang terjadi diantara kita, akan selalu menjadi abu-abu. Engkau tetap harus dihadapkan pada kenyataan, sementara yang kita alami adalah sebuah mimpi, besok kita tetap akan harus bangun di dunia nyata, dunia yang tidak akan pernah toleran terhadap hubungan "abu-abu" ini.

Sebuah tangan menggenggam lembut tanganku, perlahan kudengar suaramu memanggil lirih namaku. "Mengapa harus begini akhirnya", desahmu. Aku ingin segera bangun, dan berkata semua akan baik-baik saja. Ingin kubalas menggengam tanganmu erat,seperti selama ini aku lakukan, mengisyaratkan bahwa aku akan baik-baik saja. Tubuhku tetap tak merespon apa-apa. Sayang, penyakit ini merupakan dilema, kadang ada saat aku ragu, apakah engkau benar-benar menyayangiku apa adanya, atau hanya sekedar kasihan karena aku didiagnosa penyakit seperti ini.

Kembali teringat senyum bahagiamu di pesta itu, kasih, itulah kebahagiaan hakiki, kebahagiaan kodrat. Ketika keluargamu meminta aku menyanyikan sebuah lagu, dengan semangat 45 segera ku ke panggung, berbisik ke musik pengiring. Love Song dari Adele, sebuah lagu yang pernah kukirimkan syairnya lewat SMS padamu, lagu yang kuputar disaat ingat dirimu, syairnya sangat sederhana dan dalam.

Aku larut dalam kegembiraan yang tercipta malam itu. Sepulangnya di rumah, baru kusadari ada yang kosong. Yah, sekarang engkau sudah memiliki keluarga baru, aku tidak boleh egois menuntutmu selalu ada. Kulangkahkan kaki menuju kamar anak-anak, mereka sudah terlelap. Teringat pada mantan istriku. "Maafkan aku, tidak bisa menjadi suami yang baik, sekarang aku hanya berusaha menjadi ayah yang baik bagi anak-anak". Kucoba rapikan selimut sibungsu, dan keluar dari kamar itu.

Aku terbaring hampa di kamar tidurku, betul-betul kosong. Aku baru sadar, aku kehilangan. Kucoba motivasi diri, ini untuk yang lebih baik. Semua sendiku terasa berat, mungkin aku terlalu lelah untuk acara seperti tadi. Perlahan aku bangkit, mencari tempat obat-obatku. Tiba-tiba tanganku terasa kaku tak bertenaga, semua dunia terasa berputar, nyeri hebat menyerang kepala, dan akhirnya gelap.

"Cepat sadar, dik. Aku sangat sayang padamu", bisikmu. Apa yang terjadi, apakah aku akan meninggal, tiba-tiba ketakutan akan mati menghinggapiku. Apa yang akan aku katakan pada malaikat penjaga kubur nanti, apakah harus kukatakan tentang kisah kasih tak sampai ini. Walau aku rasa inilah "cinta". Rasa nyeri hebat kembali menyerang seluruh isi kepalaku, perlahan kudengar kepanikan di ruangan ini, apa yang terjadi,  apakah aku akan meninggal. Kalaupun itu terjadi aku sudah pasrah, biarlah rasa ini kubawa sampai mati. Terasa dingin mulai menggantikan nyeri di sekujur tubuhku, dan kembali semua menjadi gelap, perlahan suara-suara mulai menjauh. Kasih, kalau memang ada surga untuk kita, kutunggu engkau disana.



Posted on
17 April 2012
Subscribe
Follow responses trough RSS 2.0 feed.

No Comments Yet to “Kasihku, Kisah Kita Sampai Di Sini”