Pagi yang berawan masih menyisakan sisa-sisa hujan semalam. Derai rintik-rintiknya masih turun setetes demi setetes. Suasana pagi yang benar-benar membuat orang enggan untuk beranjak keluar dari selimutnya. Namun suasana hirup pikuk pusat kota tak menghiraukan keadaan itu. Keramaian lalu-lalang mulai membludak sejak dini hari tadi. Begitu pun dengan suasana disekitarku. Aku adalah sebuah toilet umum tua di dekat sebuah stasiun kereta di pusat kota. Entah kapan aku dibuat, tapi dilihat dari kekusamanku mungkin aku ada sejak negara ini baru dilahirkan.
Tiba-tiba pintuku didorong keras, dan sesosok gadis remaja masuk dengan tergesa-gesa. Segera di lepasnya rok abu-abunya dan menghujaniku dengan kotoran tanpa ampun. Sisa potongan roti, selai kacang dan anyir susu menandakan dia dari golongan keluarga yang cukup berada. Dering telepon selular yang menggema mengurangi konsentrasi buang hajatnya. Serentetan sumpah serapah khas anak muda terlontar dari bibir manisnya.
Dengan segan dia berdiri dan merogoh saku tas sekolahnya yang digantung dipintuku. “Belagu bener nih orang, dikit-dikit nelpon, minggu depan ta’ putusin baru nyaho lo”, makinya. Namun diangkatnya juga tombol penerima telepon itu. Seketika ekspresinya berubah. “Hai beb, sory lagi di kamar kecil nih, gak tau makan apa tadi pagi jadi kebelet terus kayak gini, ntar lanjut di BBM yah. Ops, iya lupa, ntar malam pasti datanglah. Taruhannya gede yah beb, kalo menang aku dibagi yah heheh, ntar lanjut yah, bye”, tutupnya. “Sialan lo, awas kalo kalah balapan lagi”. Kemudian mengambil gayung, membersihkan diri dan menutup pintu dengan kasar. Ia meninggalkanku dengan segepok pembalut bekasnya yang berserakan di lantai. Mungkin dia hanyalah anak sekolahan yang lagi suka dengan balapan-balapan liar. Ataupun masuk dalam geng-geng motor. Kebanyakan mereka melakukan sebagai bentuk pelarian dari keadaan di rumah yang tidak mendukung ekspresi kejiwaan mereka. Ataupun kurangnya didikan dari orang tua yang sibuk cari uang.
Tidak berapa lama kemudian, sesosok ibu paru baya masuk. Dia meletakkan kantong plastik belanjaannya di lantai. Entah dia dari pasar atau dari supermarket-supermarket yang semakin menjamur di kota ini. Sangat sulit untuk menemukan sebuah pasar tradisional seperti dulu lagi, dimana antara penjual dan pembeli ada interaksi tawar menawar harga. Semua diganti dengan label harga yang sudah tertera rapi di kemasan-kemasan. Bahkan untuk barang yang tergolong sembako keperluan sehari-hari seperti bawang, cabe dan sejenisnya sekarang mulai merambah di supermarket dengan harga yang sama ataupun bahkan lebih murah, membuat situasi hidup pasar tradisional semakin susah untuk tumbuh. Yang tersisa hanyalah para petani cabe dan bawang lokal yang semakin terpuruk ditengah serbuan bawang dan cabe impor.
Si Ibu dengan tenang menghabiskan ritual buang hajatnya. Sambil sesekali jarinya yang sudah tidak lentik lagi mengetik pesan-pesan singkat di telepon selularnya. Sesekali gumam, atau ekspresi tersirat dari wajahnya, saat menerima balasan pesan tersebut. Ia menutup pintu dan berlalu dengan riang.
Hari semakin beranjak senja, namun riuh lalu-lalang orang tak jua mereda. Langkah kaki cepat seakan waktu semakin berharga di kota ini. Sesosok tubuh masuk tergesa-gesa ke dalam dan mengunci pintu dengan hati-hati sekali. Tampak raut cemas dengan nafas yang memburu di wajah pemuda ini. Setelah menarik nafas panjang dia mulai nampak perlahan-lahan tenang. Perlahan-lahan dia mengeluarkan barang dari balik sakunya. Dia mulai menghitung, ada sekitar lima dompet dan satu telepon genggam dari sakunya. Dia seorang pencopet ulung. Tampaknya penampilannya jauh mengesankan dari profesi itu. Kemeja yang tertata rapi seperti seorang pekerja kantoran. Dia mulai mengitung hasil jarahannya kemudian berlalu sambil melempar dompet-dompet kosong itu ke tempat sampah.
Senja semakin bergerak, sesosok pemuda dengan tas ransel di punggungnya masuk dengan tenang ke dalam. Dia membuka resleting dan mengucurkan air seninya kepadaku. Bau pesing memenuhi ruangan bercampur dengan aroma asap rokok yang terus mengepul di tangannya. Kemudian dia mengambil telepon selular dari saku celananya dan memencet sederetan nomor. Tampak sigap raut semangat dalam nada suaranya. “Besok kita lakukan aksi besar-besaran, kalau perlu kita long march sampai gedung DPR lagi”.
Mahasiswa yang sangat idealis dengan ide-ide perubahan untuk negara ini. Negara ini memang lagi kacau balau, dengan korupsi yang menggerogot bak kanker, dan penampilan hedonis para wakil rakyat, benar-benar sudah bukan pemandangan yang asing lagi di negeri ini. Budaya malu yang dibanggakan sebagai kultur timur luntur habis digantikan muka tebal dan bangga sebagai salah satu penyebab bangsa ini tambah sengsara. Rakyat kecil bahkan sudah enggan untuk berteriak ataupun tidak mampu karena dibebani dengan melambungnya harga-harga barang.
Tinggal berharap dari para pemuda yang kelak akan menjadi estafet negara ini. Sebuah idealisme yang semoga saja tidak luntur, dan ketika saatnya mereka mengambil tongkat peran bukannya larut dan idealisme hanya tinggal kenangan semasa kuliah. Tidak sedikit bukti degradasi moral bahwa tokoh-tokoh yang kebanyakan terjerat dalam kebobrokan bangsa ini adalah tokoh-tokoh idealis dengan aktifnya mereka diberbagai organisasi kemahasiswaan dulunya.
Tinggal berharap dari para pemuda yang kelak akan menjadi estafet negara ini. Sebuah idealisme yang semoga saja tidak luntur, dan ketika saatnya mereka mengambil tongkat peran bukannya larut dan idealisme hanya tinggal kenangan semasa kuliah. Tidak sedikit bukti degradasi moral bahwa tokoh-tokoh yang kebanyakan terjerat dalam kebobrokan bangsa ini adalah tokoh-tokoh idealis dengan aktifnya mereka diberbagai organisasi kemahasiswaan dulunya.
Malam mulai perlahan menyelimuti kota dengan selimut kabut asap kendaraan yang semakin menebal. Bunyi riuhnya kereta, klakson mobil dan deru kendaraan lainnya bersatu dalam irama larutnya malam. Sebuah mobil mengkilap terparkir di depanku, dan turun sesosok perlente pria paruh baya berpenampilan rapi. Dia masuk dengan sebuah tas ditangannya.
Perlahan dia melepaskan tali pemutar musik digital yang melengket di kedua telinganya. Dia membuka kemeja dan celananya dengan rapi, melipatnya dan memasukkan kembali ke dalam tas yang dibawahnya. Kemudian membuka sisi tas yang lain dan mengeluarkan berbagai barang dari dalamnya. Sepasang baju wanita, sepatu tumit tinggi dan seperangkat alat rias wajah. Dengan cermin kecilnya, dia mulai berdandan ibarat seorang wanita, dan beberapa menit kemudian menjelma ke sosok seorang wanita dengan dandanan menor. Terakhir di keluarkannya sebuah wig dari tasnya dan memasang dengan hati-hati dikepalanya. Lengkap sudah dia benar-benar seperti perempuan asli.
Begitu susahnyakah hidup di kota ini sampai orang itu berlakon seperti itu. Ataukah ini hanyalah bentuk pelarian dari ekspresi jiwanya yang terpendam, dengan alasan malu terhadap keluarga dan lingkungan, mereka sudah terbiasa menjadi bunglon. Pagi berangkat kerja dengan rapi, dan ketika malam tiba berubah menjadi sosok wanita penggoda. Benar-benar lucu hidup ini.
Karakter-karakter yang berbeda setiap hari, masuk dengan permasalahan yang berbeda mewarnai setumpuk problema kota ini. Namun aku hanya bisa berkisah dalam kebisuan dan menjadi pengamat parodi panggung kehidupan. Aku hanyalah sebuah toilet.
Posted on
25 April 2012
25 April 2012



One Comment to “Curhat Sebuah Toilet”
nice story man, i love it, simple dan menyentuh