"Aku nggak melihat seekorpun kucing disini, untuk apa kamu nyimpen makanan kucing itu??,..kamu jadiin cemilan ya?" tanya seorang wanita kepada lelaki itu sambil bergurau. Lelaki itu tersenyum tak berkata apa apa. Kemudian ia bangkit lalu meraih bungkusan berisi makanan kucing yang tergantung di dinding pondok tersebut. Ia membukanya, lantas mengambilnya segenggam kemudian ia mencapai tempat makanan yang didalamnya masih terdapat makanan yang sama dan mulai dikerumuni semut.
Ia lalu berbuat seolah olah sedang memanggil seekor kucing. " ckckckck...!! Nis..nis..nis..nis..!!"
Ia mengucapkannya berulang ulang dan berharap kucing betina berwarna putih akan datang kepadanya.
Wanita itu membiarkannya saja, heran....
*********
Sebenarnya pada malam itu lelaki tersebut sangat lapar sekali. Ketika ia hendak menyuapkan nasi ke mulutnya tiba tiba ia mencium aroma yang sangat memualkan. Ia tahu betul aroma khas tersebut.
Segera diletakkannya piring makanannya dan kemudian menyalakan lampu suluh. Ia lalu menyuluh di kolong persis dibawah tempat ia makan. Benar saja,.. Disitu sudah bertimbun tahi kucing yang separuh kering dan juga baru saja dikeluarkan.
"Huweeeekkk....!!!" spontan lelaki itu ingin muntah saat itu juga. Dalam keadaan yang sangat murka ia lalu mengambil sapu dan membersihkan kotoran tersebut. Begitu dilihatnya kucing betina tersebut bermain main tak jauh darinya tiba tiba " brezzzz..!! Dipukulnya kucing tersebut dengan menggunakan gagang sapu.
"Miiieeoooonggg..." kucing itu melonjak kaget. " Pergi kamuuuu...!!!, aku nggak mau melihat kamu disini lagi,..!!!" kucing itu tetap tak bergeming dari tempatnya. Ia menggigil ketakutan melihat lelaki didepannya mengamuk.
"Dasar binatang tak tau diuntung,..! Dikasih makan tapi balasanmu apaa??
Taiii?? Haa...!!! Pergi saja kamu ....!!" Teriak lelaki tersebut sambil melempari kucing itu dengan apa saja benda disekelilingnya.
Kucing betina tersebut segera bangun lalu berlari kencang menembus lebatnya hujan. Ia lalu bersembunyi di celah rimbunnya semak belukar. Tak sedikitpun lelaki itu tak merasa kasihan padanya. "Pergi kamuu...!!! Teriak lelaki itu berulang ulang. Ia masih melempari kucing itu di persembunyiannya.
" Mampus aja kamu.,,binatang sialannn...!"
Sebenarnya kejadian itu bukanlah kali pertama terjadi, tapi malam itulah mungkin yang terparah. Kucing itu seolah olah tak belajar dari kesalahannya yang sudah lewat. Ia tetap saja pengotor dan suka membuang kotorannya sembarangan. Hal itu juga yang kerap kali menjadi pemicu kebengisan lelaki tersebut.
" Dasar kucing keparat" batin lelaki itu.
*********
Manusia memang dilahirkan dengan sifat kasih sayang, tapi itu bukan berarti ia tak bisa berkelakuan layaknya binatang. Begitu juga sebaliknya meskipun hanya binatang atau seekor kucing nalurinya juga bisa mengerti siapa yang benar benar mengasihi dan menyayanginya.
Hujan masih juga belum berhenti, ia masih deras mengguyur bumi. Mungkin tak tahan kedinginan, kucing betina itu akhirnya melompat keluar dari persembunyiannya. Ia lalu berteduh dibawah pondok itu juga. Lelaki itu melihatnya namun membiarkannya saja. Kemarahannya sedikit mereda, apalagi begitu dilihatnya kucing tersebut memelas, tiba tiba hatinya tersentuh. Rada kasihan dan bersalah mulai menggelayuti dirinya.
Diangkatnya kucing tersebut kemudian diambilnya handuk bekas dan dikeringkannya kucing itu. Setelah itu diambilkannya makanan untuknya. Beberapa menit kemudian kucing itu naik kembali dan mengelus elus kaki lelaki tersebut .
Jika ia bisa berkata kata mungkin ia akan berkata begini, "Maafkan saya,... Maafkan saya jika selama ini sering membuatmu marah,..Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi...Tapi tolong jangan usir saya malam ini, diluar sedang hujan lebat,...Saya janji esok saya akan pergi, tolong ijinkan saya berteduh disini malam
ini saja, saya janji tak kan membuatmu marah marah lagi.."
Sayangnya lelaki itu tak memahami kelakuan kucing tersebut. Baginya kucing tersebut sedang bermanja manja dengannya setelah diberi perhatian.
Sehinggalah keesokan harinya ia tak melihat kelibat kucing putih tersebut. Dipanggilnya berulang kali namun tak menyahut. Dicarinya di semak belukar tempatnya sembunyi malam tadi tetap tidak ada. Lelaki itu termenung menatap tempat dimana kucing itu biasa bermain main.
Ia mengalihkan pandangannya ke tempat makanan kucing yang tak disentuh. Seminggu sudah kucing betina itu menghilang, agaknya kucing itu benar benar telah pergi. Ia pergi menyisakan penyesalan di hati lelaki tersebut . Kini tiada lagi yang berlari riang menyambutnya setiap pulang bekerja, tak ada lagi yang bertingkah lucu yang senantiasa menghiburnya disaat kesunyian.
"Maafkan saya,..." bisik lelaki itu pelan, sepelan angin senja yang lembut bertiup.
Ia lalu berbuat seolah olah sedang memanggil seekor kucing. " ckckckck...!! Nis..nis..nis..nis..!!"
Ia mengucapkannya berulang ulang dan berharap kucing betina berwarna putih akan datang kepadanya.
Wanita itu membiarkannya saja, heran....
*********
Sebenarnya pada malam itu lelaki tersebut sangat lapar sekali. Ketika ia hendak menyuapkan nasi ke mulutnya tiba tiba ia mencium aroma yang sangat memualkan. Ia tahu betul aroma khas tersebut.
Segera diletakkannya piring makanannya dan kemudian menyalakan lampu suluh. Ia lalu menyuluh di kolong persis dibawah tempat ia makan. Benar saja,.. Disitu sudah bertimbun tahi kucing yang separuh kering dan juga baru saja dikeluarkan.
"Huweeeekkk....!!!" spontan lelaki itu ingin muntah saat itu juga. Dalam keadaan yang sangat murka ia lalu mengambil sapu dan membersihkan kotoran tersebut. Begitu dilihatnya kucing betina tersebut bermain main tak jauh darinya tiba tiba " brezzzz..!! Dipukulnya kucing tersebut dengan menggunakan gagang sapu.
"Miiieeoooonggg..." kucing itu melonjak kaget. " Pergi kamuuuu...!!!, aku nggak mau melihat kamu disini lagi,..!!!" kucing itu tetap tak bergeming dari tempatnya. Ia menggigil ketakutan melihat lelaki didepannya mengamuk.
"Dasar binatang tak tau diuntung,..! Dikasih makan tapi balasanmu apaa??
Taiii?? Haa...!!! Pergi saja kamu ....!!" Teriak lelaki tersebut sambil melempari kucing itu dengan apa saja benda disekelilingnya.
Kucing betina tersebut segera bangun lalu berlari kencang menembus lebatnya hujan. Ia lalu bersembunyi di celah rimbunnya semak belukar. Tak sedikitpun lelaki itu tak merasa kasihan padanya. "Pergi kamuu...!!! Teriak lelaki itu berulang ulang. Ia masih melempari kucing itu di persembunyiannya.
" Mampus aja kamu.,,binatang sialannn...!"
Sebenarnya kejadian itu bukanlah kali pertama terjadi, tapi malam itulah mungkin yang terparah. Kucing itu seolah olah tak belajar dari kesalahannya yang sudah lewat. Ia tetap saja pengotor dan suka membuang kotorannya sembarangan. Hal itu juga yang kerap kali menjadi pemicu kebengisan lelaki tersebut.
" Dasar kucing keparat" batin lelaki itu.
*********
Manusia memang dilahirkan dengan sifat kasih sayang, tapi itu bukan berarti ia tak bisa berkelakuan layaknya binatang. Begitu juga sebaliknya meskipun hanya binatang atau seekor kucing nalurinya juga bisa mengerti siapa yang benar benar mengasihi dan menyayanginya.
Hujan masih juga belum berhenti, ia masih deras mengguyur bumi. Mungkin tak tahan kedinginan, kucing betina itu akhirnya melompat keluar dari persembunyiannya. Ia lalu berteduh dibawah pondok itu juga. Lelaki itu melihatnya namun membiarkannya saja. Kemarahannya sedikit mereda, apalagi begitu dilihatnya kucing tersebut memelas, tiba tiba hatinya tersentuh. Rada kasihan dan bersalah mulai menggelayuti dirinya.
Diangkatnya kucing tersebut kemudian diambilnya handuk bekas dan dikeringkannya kucing itu. Setelah itu diambilkannya makanan untuknya. Beberapa menit kemudian kucing itu naik kembali dan mengelus elus kaki lelaki tersebut .
Jika ia bisa berkata kata mungkin ia akan berkata begini, "Maafkan saya,... Maafkan saya jika selama ini sering membuatmu marah,..Saya berjanji tak akan mengulanginya lagi...Tapi tolong jangan usir saya malam ini, diluar sedang hujan lebat,...Saya janji esok saya akan pergi, tolong ijinkan saya berteduh disini malam
ini saja, saya janji tak kan membuatmu marah marah lagi.."
Sayangnya lelaki itu tak memahami kelakuan kucing tersebut. Baginya kucing tersebut sedang bermanja manja dengannya setelah diberi perhatian.
Sehinggalah keesokan harinya ia tak melihat kelibat kucing putih tersebut. Dipanggilnya berulang kali namun tak menyahut. Dicarinya di semak belukar tempatnya sembunyi malam tadi tetap tidak ada. Lelaki itu termenung menatap tempat dimana kucing itu biasa bermain main.
Ia mengalihkan pandangannya ke tempat makanan kucing yang tak disentuh. Seminggu sudah kucing betina itu menghilang, agaknya kucing itu benar benar telah pergi. Ia pergi menyisakan penyesalan di hati lelaki tersebut . Kini tiada lagi yang berlari riang menyambutnya setiap pulang bekerja, tak ada lagi yang bertingkah lucu yang senantiasa menghiburnya disaat kesunyian.
"Maafkan saya,..." bisik lelaki itu pelan, sepelan angin senja yang lembut bertiup.
Posted on
24 Oktober 2014
24 Oktober 2014



No Comments Yet to “Lelaki dan Seekor Kucing”