Dalam sebuah kisah diceritakankan seorang ibu yang memiliki seorang anak yang lahir cacat, dimana si anak ini tidak memiliki daun telinga.
Saat anaknya sudah bertambah besar, dia selalu pulang dengan menangis karena diolok-olok temannya. Sang ibu berusaha membujuknya dengan kata-kata manis dan membuatkan kue kesukaan sang anak supaya kembali ceria dan tak ingat peristiwa tadi.
Kemudian si ibu membawa anaknya ke rumah sakit, berusaha segala cara agar anaknya bisa normal kembali. Dokter menyarankan agar mencari dan menunggu donor daun telinga untuk si anak.
Ketika si anak sudah beranjak remaja, dia semakin pendiam, dalam pergaulan dia tersisih dan merasa malu dengan keadaannya. Ketika si ibu bertanya, sang anak selalu marah-marah dan menyalahkan ibunya, kenapa melahirkannya dengan kondisi seperti itu, si ibu hanya bisa diam.
Suatu hari ada kabar dari rumah sakit bahwa donor telinga untuk si anak sudah ada, dengan gembiranya si anak dibawa ke rumah sakit dan dilakukan transplantasi daun telinga. Setelah sembuh si anak semakin percaya diri dan sudah bisa bersosial lagi.
Lain dengan si Ibu, sejak hari itu dia menjadi tertutup, kepalanya selalu diselubungi kerudung panjang. Akhirnya saat ajalnya tiba, ketika si anak membuka kerudung ibunya dan terlihat kedua daun telinga ibunya sudah tidak ada. Sang anak menangis, ternyata selama ini yang mendonorkan telinganya adalah ibunya sendiri.
Bercermin dari kisah tersebut, marilah kita sayangi ibu kita, terkadang karena kesibukan kita dan saat usia ibu kita sudah tua, kita mulai lupa cara memperlakukan orang yang melahirkan kita. Tanpa mereka kita bukan siapa-siapa.
Posted on
17 April 2012
17 April 2012



One Comment to “Kasih Ibu Tak Berbatas”
nice story, touched..